Meningkatnya aktivitas penemuan ular di lingkungan sekitar mendorong kampus STIKES Pemkab Jombang untuk mengambil langkah preventif. Bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang dan Komunitas Pecinta Reptil, kampus sukses menggelar sosialisasi dan edukasi mengenai penanganan serta pertolongan pertama pada gigitan hewan berbisa (ular).
Kegiatan yang berlangsung di STIKES Pemkab Jombang ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa, dosen, serta staf civitas akademika. Agenda ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang benar, berbasis sains dan mitigasi kebencanaan, agar masyarakat kampus tidak panik saat menghadapi situasi darurat terkait reptil tersebut.
Mengubah Stigma dan Kepanikan Menjadi Kesiapsiagaan
Dalam sambutannya, perwakilan pihak kampus menyampaikan bahwa edukasi ini sangat penting mengingat letak geografis wilayah yang masih memiliki banyak area hijau, yang menjadi habitat alami berbagai jenis ular.
“Kami ingin civitas akademika memiliki safety awareness yang tinggi. Bukan untuk memusuhi satwa, melainkan tahu cara berbagi ruang dengan aman dan tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi kondisi darurat,” ujarnya.
Pihak BPBD Kabupaten Jombang memberikan materi mendalam mengenai manajemen kebencanaan skala mikro. Mereka menekankan pentingnya nomor darurat dan koordinasi cepat jika ditemukan ular dengan ukuran besar atau kategori sangat berbisa di area pemukiman atau kampus.
Simulasi Langsung dan Pembongkaran Mitos Pertolongan Pertama
Sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah demonstrasi langsung oleh Komunitas Pecinta Reptil. Mereka membawa beberapa jenis ular, baik yang tidak berbisa (non-venomous), berbisa menengah (semi-venomous), hingga berbisa tinggi (high-venomous).
Peserta diajarkan cara membedakan karakteristik fisik ular serta metode snake handling yang aman menggunakan alat bantu sederhana seperti tongkat atau snake hook.
Selain cara menangani ular, edukasi ini juga meluruskan berbagai mitos keliru terkait pertolongan pertama pada gigitan ular yang selama ini beredar di masyarakat:
- Mitos: Luka gigitan harus diikat kuat, disedot darahnya, atau disayat.
- Fakta: Tindakan tersebut justru mempercepat penyebaran racun (bisa) atau merusak jaringan tubuh. Metode yang benar dan direkomendasikan secara medis adalah Imobilisasi (membuat bagian tubuh yang digigit tidak bergerak/dibidai) untuk memperlambat laju bisa ke kelenjar getah bening, lalu segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Antusiasme Tinggi Peserta
Edukasi interaktif ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan simulasi penanganan langsung oleh perwakilan mahasiswa di bawah pengawasan ketat para ahli. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan seluruh warga kampus dapat lebih waspada, tanggap, dan tidak melakukan tindakan ceroboh yang membahayakan nyawa saat berhadapan dengan hewan berbisa.

